Selamat Tinggal Piala Dunia 2022 Indonesia baru sebatas mimpi menjadi tuan rumah Piala Dunia…

Niat Indonesia, dalam hal ini PSSI, untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 sudah hampir pasti tertutup menyusul adanya penolakan secara halus dari pemerintah mendukung rencana besar dari PSSI tersebut.

Penolakan secara halus bisa disimak dari pernyataan Menkokesra Agung Laksono yang menyebutkan pemerintah terlebih dahulu harus mengkaji rencana menjadi tuan rumah Piala Dunia, di saat batas akhir pemberian surat dukungan dari pemerintah ke FIFA. Pernyataan ini bisa diartikan pemerintah telah menolak keinginan PSSI untuk menggelar Piala Dunia.

Bahkan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono pun tak pernah menyebut Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia ketika menerima trofi Piala Dunia di Istana Merdeka beberapa waktu lalu. SBY hanya menyatakan kehadiran trofi yang diperebutkan semua bangsa di dunia ini diharapkan mampu memacu prestasi sepakbola nasional, sehingga bisa tampil di Piala Dunia.

FIFA sebagai pemilik hajatan itu tentunya tidak mau menunggu Indonesia [pemerintah] mengkaji pelaksanaan Piala Dunia. Bagi FIFA, setiap negara yang sudah mencalonkan diri menjadi tuan rumah dipastikan sudah mendapat dukungan dari pemerintahnya.

Dari pernyataan itu bisa dibentuk pertanyaan, apa upaya yang telah dilakukan PSSI kepada pemerintah? Sejauh ini upaya tersebut tidak terlihat. Ketua umum PSSI Nurdin Halid beserta jajarannya lebih menyibukkan diri melobi negara lain untuk mencari dukungan.

Ironisnya, dukungan dari negeri sendiri justru diabaikan. Padahal, sejak mengikrarkan diri menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 pada tahun lalu, PSSI mempunyai kesempatan untuk melobi pemerintah, bukan ‘jalan-jalan’ ke sejumlah negara demi mendapatkan dukungan. Dukungan dari negara lain bisa dilakukan setelah ada kepastian dari pemerintah.

PSSI pernah mengklaim telah membuat kesepakatan dengan Australia untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia bersama. Tapi kesepakatan itu tidak pernah diupayakan PSSI kepada pemerintah.

Australia bisa dijadikan contoh. Satuan tugas mereka bekerja setelah mendapat dukungan dari pemerintah yang bersedia menggelontorkan dana $25 juta untuk maju dalam bidding tuan rumah Piala Dunia. Angka itu sebetulnya hampir sama dengan yang disebut PSSI, $24 juta. Namun tidak jelas asal dana tersebut.

Peran pemerintah sangat besar dalam mensukseskan Piala Dunia. Sebab, pemerintah mempunyai hak serta kewajiban untuk memperbaiki infrastruktur di negara ini. Kita bisa melihat skala lebih kecil sebelum mewujudkan mimpi menjadi tuan rumah Piala Dunia. Niat Persipura Jayapura menjadi tuan rumah Liga Champions Asia di Stadion Mandala menemui kegagalan.

Perwakilan konfederasi sepakbola Asia [AFC] yang melakukan verifikasi mengeluhkan lamanya penerbangan dari Jakarta ke Jayapura. Sebelum sampai di Jayapura, perwakilan AFC itu harus transit dulu di Makassar. Keluhan serupa juga disampaikan mantan pelatih timnas senior Peter Withe.

Dari masalah itu bisa disimpulkan besarnya peranan pemerintah dalam mensukseskan suatu hajatan berskala internasional. Dari sisi penerbangan saja sudah mengalami kendala, bagaimana dengan pembangunan infrastruktur lainnya? Suatu pekerjaan besar yang tak bisa dianggap main-main, seperti halnya PSSI ‘main-main’ mengajukan diri menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.

Sebetulnya, sebuah negara tidak perlu memiliki tim nasional yang bagus untuk menghelat pagelaran akbar Piala Dunia. Cukup mempunyai tekad dan ambisi, maka hal itu bisa diwujudkan. Sayangnya, tekad dan ambisi itu tidak terlihat sama sekali di tubuh PSSI, dan pemerintah.

Padahal dengan menjadi tuan rumah Piala Dunia, banyak keuntungan yang bisa diperoleh, dan pemerintah selayaknya menyadari hal itu. Di samping nama Indonesia akan semakin dikenal di jagat bumi ini, infrastruktur layak yang selama ini tak dimiliki daerah lain di tanah air juga akan bermunculan.

Bandara berskala internasional yang bisa didatangi pesawat besar, tidak sebatas pesawat ukuran Boeing 737, seperti Soekarno-Hatta akan ditemui di kota-kota yang menjadi tempat penyelenggara pertandingan.

Perekonomian rakyat di kota penyelenggara juga akan semakin meningkat. Masyarakat setempat bisa memperlihatkan potensi dan kreativitas yang mereka miliki untuk membuka lapangan kerja. Beragam budaya yang dimiliki Indonesia bisa terpelihara, karena menarik minat turis mancanegara.

Satu hal yang pasti, perkembangan dunia olahraga, khususnya sepakbola, akan semakin membaik, karena didukung prasarana yang komplit peninggalan tim-tim besar, yang tentunya mempunyai standar sepakbola tinggi. Sayang, itu semua baru sebatas mimpi.

Oleh Donny Afroni
13 Feb 2010 17:26:00

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: